Thursday, June 25, 2009

Telaga Senja (63)




It’s the way she fills my senses/It’s the perfume that she wears/I feel I’m losing my defences/To the colour of her hair /And every little piece of her is right/Just thinking about her/Takes me through the night

Every time we meet/The picture is complete/Every time we touch/The feeling is too much/She’s all I ever need/To fall in love again/I knew it from the very start


She’s the puzzle of my heart/It’s the way she’s always smiling/That makes me think she never cries/I feel I’m losing my defences/To the colour of her eyes /And every little piece of her is right

[Chorus]
Like a miracle she’s meant to be/She became the light inside of me/And I can feel her like a memory/From long... ago
[Chorus]
Every time we meet/The picture is complete/Every time we touch/The feeling is too much/Every time we meet/The picture is complete/Every time we touch
The feeling is too much/She’s all I ever need/To fall in love again/I knew it from the very start/She’s the puzzle of my heart

=======================
Aku bintang Virgo, Lam Hot bintangnya lipan, makanya ucapannya berbisa dan selalu membelit ” jawabku.
“ Mana ada bintang lipan mas, mungkin Scorpio maskudnya,?” celutuk Laura.
“ Samanya itu, cuma beda bentuk tubuh, tapi sama-sama beracun dan mematikan,” jelasku disambut tawa cekikan Rima
=========================

USAI makan siang Lam Hot dan Rima mengajakku jalan keliling kota dengan naik bus,tetapi Laura mecegahnya dengan alasan aku masih kelihatan lemah. “ Biarkan mas Tan Zung istrahat dulu, 'ntar kalau sudah pulih benar kita jalan bareng,” ujarnya. Aku hanya diam, meski ada keinginan jalan bersama Lam Hot sekaligus menghindari kunjungan ke dokter, tetapi aku takut Laura merasa tersinggung. Aku selalu menjaga perasaannya sebab Laura jarang membantah jika aku menolak keinginanannya, dia selalu bersikap diam atau membujuk, tidak pernah ada “improvisasi” seperti Magda,misalnya, bertanya kenapa kalau aku menolak, bila perlu “bentak” meski pada akhirnya akan cair, tak jarang pula dia merajuk.

“ Mas, istrahat dulu, nanti sore kita ke dokter. Aku sebentar kerumah mau temani mama ke salon,” ujarnya.
“ Laura, aku boleh jalan sekitar hotel ini.?”
“ Jangan biarkan abang jalan sendirian mbak, ‘ntar kehilangan jejak, mampus kita nanti,” celutuk Lam Hot.
“ Iya, nggak usah khawatir, aku akan temanin mas Tan Zung,” balas Laura.
“ Mas, tunggu disini atau dikamar, aku segera kembali setelah antar mami. Mas jangan pergi sedirian, takut abang apa-apa dijalan nggak ada yang menolong,” ujarnya.

Lam Hot dan Rima pergi keliling kota, Laura pulang kerumahnya untuk menemani maminya ke salon sementara aku duduk bengong nggak tahu mau melakukan apa. Laura melarangku keluar sendirian, terpaksa aku masuk kekamar hotel, tidur. Dalam kesendirian, wajah Magda tampak dalam bayang. Aku mau telepon dia, tetapi aku enggan memakai jasa telepon Hotel. Meski aku yakin, Laura tidak akan melarangku memakai telepon saluran jarak jauh dari hotel, tetapi aku tak tega menambah beban Laura membayar rekening telepon selain sewa kamar yang telah ditanggungnya.

Tak tahu pula kemana aku harus mencari kantor telpon. Sebelum masuk kamar, iseng aku menanyakan kantor telpon ke salah seorang karyawan hotel; Dia menjelaskan secara lengkap alamatnya, serta jenis kenderaan untuk mencapai alamat kantor telepon itu.

“ Bapak punya saudara disana ? Mau diantarkan kesana pak? “ tanya karyawan lainnya. Aku menolak tawarannya, perasaan dihinggapi rasa takut bila ketahuan kepada Laura. Memang, semua karayawan bersikap ramah dan hormat kepadaku dan Lam Hot melebihi kepada tamu lainnya. Apakah karena kedekataanku dengan Laura atau aku dan Lam Hot tamu istimewa Laura? Hingga saat itu aku belum tahu apa dan bagaimana hubungan Laura dengan Mathias, manager Hotel.

Ditengah kerinduan, aku mengharap Magda dapat menghubungiku, tetapi harapanku segera pupus karena aku lupa memberi nomor telepon kemarin malam sebelum aku berangkat. Bayang-bayang wajah Magda menghantar tidur siang diiringi tembang-tembang Jawa yang disiarkan melalui radio lokal.

Sore menjelang malam, aku terjaga mendengar suara perempuan memanggil namaku; Segera aku bangkit dan meloncat kearah pintu kamar setelah mendengar ketukan dan memanggil namaku dari luar. Pikiran menukil kenangan lama, aku seakan berada di kamar kosku dulu yang kami tahbiskan ruang “ perpustakaan”.
“ Ya, tunggu sebentar,” jawabku dari dalam sembari buru-buru memperbaiki pakaianku yang masih semraut. Panggilan Laura berikut menyadarkanku, kalau aku bukan di ruang"perpustakaan" tetapi didalam ruangan lain. Ah...suara itu bukan milik Magda!.

Kembali ketukan pintu dan suara Laura memanggilku ketika aku masih dikamar mandi membersihkan sisa air mata yang tak kusadari membasahi wajah saat mengingat malam nanti, Magda akan merayakan ulangtahun tanpa kehadiranku, juga tanpa ucapan selamat. Kali pertama selama lima tahun terakhir aku tidak mendampinginya pada saat Magda merayakan hari ultahnya.

“ Mas Tan Zung masih sakit? Matanya tampak merah.!” ujar Laura ketika baru saja pintu kubukakan.
“ Oh..ya tadi mataku kemasukan binatang kecil. Sudah nggak apa-apa kok.”
“ Sebentar aku ambilkan obat tetes mata,” ujarnya lantas meninggalkanku dikamar. Oalah...manalah cukup obat tetes airmata kawan ini mengobati rasa siksa diri karena rindu, gumamku dalam hati. Cilakanya, Laura ingin meneteskan sendiri ke kelopak mataku. Padahal tadi aku rencanakan pergi kekamar mandi pura-pura meneteskan obat itu. Disuruhnya pula aku telentang ditempat tidur. “ Rebahan mas, biar obatnya lebih cepat meresep,” ujarnya.

Hampir saja ketawaku meledak, mataku jadi korban gara-gara ingin menutupi kebohongan. Ingat, dulu, aku tergolek lemah ditempat tidur, pura-pura sakit karena takut dimarahi Magda. Saat itu aku dibelikan makanan kesukuaanku kwetiau goreng kemudian menyuapiku. Kini jari perempuan lain menyentuh kelopak mataku dalam pembaringan. ( Bersambung)

Los Angeles. June 2009
Tan Zung


Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/

Wednesday, June 24, 2009

Telaga Senja (62)





http://www.youtube.com/watch?v=CtRDKi7dRg0

Westlife--Every Little Thing You Do
Hello, let me know if you hear me/Hello, if you want to be near/Let me know/And I'll never let you go / Hey love/When you ask what I feel, I say love/When you ask how I know/I say trust/And if that's not enough

It's every little thing you do/That makes me fall in love with you/There isn't a way that I can show you/Ever since I've come to know you


It's every little thing you say/ That makes me wanna feel this way/ There's not a thing that I can point to/'Cause it's every little thing you do

Don't ask why/Let's just feel what we feel/'Cause sometimes/It's the secret that keeps it alive/But if you need a reason why

(Chorus) : Is it your smile or your laugh or your heart?/Does it really matter why I love you?/Anywhere there's a crowd, you stand out

Can't you see why they can't ignore you?/If you wanna know/Why I can't let go/Let me explain to you/That every little dream comes true/With every little thing you do

It's everything, everything you do/That makes me fall in love with you/It's everything, everything you say/That makes me feel this way
====================
“ Mbak, ntar kalau abang pingsan nggak ada yang tahu. Biarkanlah kami satu kamar. Aku janji nggak gangguin abang,” ujarnya ketawa.
“ Nggak apa-apa kok, nanti adik Lam Hot sesekali ngecek mas Tan Zung ke kamar,” balas Laura serius.
====================

Siang harinya aku kaget ketika Laura membangunkanku; dia dan Lam Hot masuk kekamar tanpa sepengetahuanku. “ Abang nggak apa-apa kan,?” tanya adikku. Laura menimpali, “ Mas, tadi kami ketuk-ketuk kamar nggak ada sahutan. “
“ Kalian pikir aku sudah “lewat” iya.?” tanyaku dari atas tempat tidur
“ Lho, kok pikirannya sejauh itu mas!?,” tanya Laura serius.
“ Habisnya kalian masuk seperti garong!”
“ Maaf mas, aku khawatir penyakitnya kambuh.!” ujarnya memelas.
“ Iya, siapa tahu juga abang lupa bernafas.!” selah Lam Hot
Heh....Hot nggak baik omong seperti itu,” sergah Laura.
Sebenarnya aku dan Lam Hot hanya bergurau, tetapi Laura menjawab serius setiap pembicaraanku dan Lam Hot. Laura belum dapat mengimbangi gurauan lepasku dan Lam Hot. Kebiasaanku saling ngenyek dengan Magda terbawa-bawa. Bila celotehan semacam ini terjadi padaku dan Magda pastilah berlanjut seru bagai berbalas pantun.

“ Laura, aku sudah bisa pindah kamar. ?”
“ Kenapa mas, takut sendirian.?”
“ Iya, aku tadi mimpi tabrakan dengan kereta,” ujarku sambil bangkit dari tempat tidurku.
“ Abang remuk dong, “ balas Lam Hot.
“ Nggak keretanya yang berantakan.”
“ Mimpinya kok lucu,?” tanya Laura.
“ Iya, aku tabrakan dengan kereta angin,” ujarku lantas berjalan ke kamar mandi.
“ Begitu mbak, kalau orang desa mimpi hanya seputar kereta angin dan kereta lembu,” celutuk Lam Hot cengengesan. “ Cepatan bang, aku sudah lapar berat nih,”lanjutnya.

Aku melihat Laura tak mampu menahan tawanya hingga terduduk di tempat tidurku. “ Sudah mas, aku capek,” ujarnya masih ketawa.
Sementara aku berkemas dalam kamar mandi, aku mendengar suara Rima; Dia menyapaku setelah keluar dari kamar mandi,” Kakak tampak segar, “ sapanya.

Laura mengajak kami makan siang, ternyata dia sudah menyiapkannya untuk kami berempat. Sebelum kami duduk dikursi meja makan, aku membisikkan kepada Laura agar jangan menyuruhku berdoa makan. “ Kita doa sendiri-sendirlah,” kataku pelan, takut kedenganran Lam Hot. Laura mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum mendengar permintaanku.

“ Mas belum selera makan,? “ tanyanya ketika dia melihatku kurang bergairah.
“ Apa perlu dipanggil ibu untuk suapin abang,?” celutuk Lam Hot. Siang itu, aku memang kurang selera makan, selain lidahku belum pas dengan menu makanan yang tersaji, aku tiba-tiba ingat Magda. Hampir saja aku kelupaan, hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ini juga salah satu penyebab aku kurang menikmati makan siang kami. Aku ingin segera meninggalkan mereka, hendak mengucapkan selamat hari lahirnya Magda, namun aku masih enggan memakai jasa telepon hotel itu.

Laura dan Rima tak tega meneruskan santapannya setelah melihat aku meletakkan sendok diatas piringku, sementara Lam Hot tanpa peduli, terus melahap makanannya. Laura terus membujukku untuk menyantap makanan yang masih menumpuk diatas piringku, “ Makan sedikit lagi mas.”

Bujukan yang sama diajukan Rima. Aku berusaha mencicipi lagi setelah keduanya tak mau melanjutkan makan, meski kerongkonganku belum dapat diajak kompromi. Aku memaksakan mencicipi makanan. Kembali, Laura dan Rima mengangkat sendoknya dan melanjutkan makan.
Wajah Laura tampak prihatin melihat perubahanku begitu tiba-tiba. Selama di meja makan pandangannya hampir tak lepas dari wajahku membuat aku semakin kikuk.

Setelah habis makan, Laura meminta kunci kamar. ” Obatnya taruh dimana mas,?” tanyanya sambil beranjak dari kursinya. Lam Hot buru-buru mengambil kunci dari tangan Laura,” Biar aku yang ngambil mbak. Ah..manja kalipun abang ini,” ujarnya bersungut. Laura dan Rima saling pandang dan melemparkan senyuman melihat tingkah adikku Lam Hot.

“ Kakak Tan Zung beda bintang iya dengan mas Lam Hot?,” tanya Rima.
“ Bukan cuma beda bintang, beda rejeki dan beda ganteng. Biasanya hidung mancung kedepan, lihat hidung Lam Hot mancung kesamping alias bersayap. Entah kenapa dik Rima tertarik dengannya. Aku bintang Virgo, Lam Hot bintangnya lipan, makanya ucapannya berbisa dan selalu membelit ” jawabku.
“ Mana ada bintang lipan mas, mungkin Scorpio maskudnya,?” celutuk Laura.
“ Samanya itu, cuma beda bentuk tubuh, tapi sama-sama beracun dan mematikan,” jelasku disambut tawa cekikan Rima ( Bersambung)

Los Angeles. June 2009

Tan Zung
Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/