Every time we meet/The picture is complete/Every time we touch/The feeling is too much/She’s all I ever need/To fall in love again/I knew it from the very start
[Chorus]
Like a miracle she’s meant to be/She became the light inside of me/And I can feel her like a memory/From long... ago
[Chorus]
Every time we meet/The picture is complete/Every time we touch/The feeling is too much/Every time we meet/The picture is complete/Every time we touch
The feeling is too much/She’s all I ever need/To fall in love again/I knew it from the very start/She’s the puzzle of my heart
“ Mana ada bintang lipan mas, mungkin Scorpio maskudnya,?” celutuk Laura.
“ Samanya itu, cuma beda bentuk tubuh, tapi sama-sama beracun dan mematikan,” jelasku disambut tawa cekikan Rima
“ Mas, istrahat dulu, nanti sore kita ke dokter. Aku sebentar kerumah mau temani mama ke salon,” ujarnya.
“ Laura, aku boleh jalan sekitar hotel ini.?”
“ Jangan biarkan abang jalan sendirian mbak, ‘ntar kehilangan jejak, mampus kita nanti,” celutuk Lam Hot.
“ Iya, nggak usah khawatir, aku akan temanin mas Tan Zung,” balas Laura.
“ Mas, tunggu disini atau dikamar, aku segera kembali setelah antar mami. Mas jangan pergi sedirian, takut abang apa-apa dijalan nggak ada yang menolong,” ujarnya.
Lam Hot dan Rima pergi keliling kota, Laura pulang kerumahnya untuk menemani maminya ke salon sementara aku duduk bengong nggak tahu mau melakukan apa. Laura melarangku keluar sendirian, terpaksa aku masuk kekamar hotel, tidur. Dalam kesendirian, wajah Magda tampak dalam bayang. Aku mau telepon dia, tetapi aku enggan memakai jasa telepon Hotel. Meski aku yakin, Laura tidak akan melarangku memakai telepon saluran jarak jauh dari hotel, tetapi aku tak tega menambah beban Laura membayar rekening telepon selain sewa kamar yang telah ditanggungnya.
Ditengah kerinduan, aku mengharap Magda dapat menghubungiku, tetapi harapanku segera pupus karena aku lupa memberi nomor telepon kemarin malam sebelum aku berangkat. Bayang-bayang wajah Magda menghantar tidur siang diiringi tembang-tembang Jawa yang disiarkan melalui radio lokal.
Sore menjelang malam, aku terjaga mendengar suara perempuan memanggil namaku; Segera aku bangkit dan meloncat kearah pintu kamar setelah mendengar ketukan dan memanggil namaku dari luar. Pikiran menukil kenangan lama, aku seakan berada di kamar kosku dulu yang kami tahbiskan ruang “ perpustakaan”.
“ Ya, tunggu sebentar,” jawabku dari dalam sembari buru-buru memperbaiki pakaianku yang masih semraut. Panggilan Laura berikut menyadarkanku, kalau aku bukan di ruang"perpustakaan" tetapi didalam ruangan lain. Ah...suara itu bukan milik Magda!.
Kembali ketukan pintu dan suara Laura memanggilku ketika aku masih dikamar mandi membersihkan sisa air mata yang tak kusadari membasahi wajah saat mengingat malam nanti, Magda akan merayakan ulangtahun tanpa kehadiranku, juga tanpa ucapan selamat. Kali pertama selama lima tahun terakhir aku tidak mendampinginya pada saat Magda merayakan hari ultahnya.
“ Mas Tan Zung masih sakit? Matanya tampak merah.!” ujar Laura ketika baru saja pintu kubukakan.
“ Oh..ya tadi mataku kemasukan binatang kecil. Sudah nggak apa-apa kok.”
“ Sebentar aku ambilkan obat tetes mata,” ujarnya lantas meninggalkanku dikamar. Oalah...manalah cukup obat tetes airmata kawan ini mengobati rasa siksa diri karena rindu, gumamku dalam hati. Cilakanya, Laura ingin meneteskan sendiri ke kelopak mataku. Padahal tadi aku rencanakan pergi kekamar mandi pura-pura meneteskan obat itu. Disuruhnya pula aku telentang ditempat tidur. “ Rebahan mas, biar obatnya lebih cepat meresep,” ujarnya.
Hampir saja ketawaku meledak, mataku jadi korban gara-gara ingin menutupi kebohongan. Ingat, dulu, aku tergolek lemah ditempat tidur, pura-pura sakit karena takut dimarahi Magda. Saat itu aku dibelikan makanan kesukuaanku kwetiau goreng kemudian menyuapiku. Kini jari perempuan lain menyentuh kelopak mataku dalam pembaringan. ( Bersambung)
Los Angeles. June 2009
Tan Zung
Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/
