Sunday, August 2, 2009

Telaga Senja (91)

When I need you/Just close my eyes and Im with you/And all that I so want to give you /Its only a heart beat away

When I need love/I hold out my hands and I touch love/I never knew there was so much love/Keeping me warm night and day

Miles and miles of empty space in Between us/A telephone cant take the place of your Smile/But you know I wont be traveling Forever/Its cold out, but hold out and do like I do

*) When I need you/Just close my eyes and Im with you/And all that I so want to give you babe/Its only a heartbeat away

Its not easy when the road is your driver/Honey, thats a heavy load that we bear/But you know I wont be traveling a Lifetime/Its cold out but hold out and do like I do Oh I need you

When I need you/I hold out my hands and I touch love/I never knew there was so much love/ Keeping me warm night and day
*)
==============================
“ Sahabat itu teman sejati mas. Tak mengharapkan sesuatu imbalan kala mengulurkan tangan membantu seseorang dalam kesulitan. Kekasih sewaktu-waktu dapat putus, jika tidak sesuai dengan keinganannya,” ujarnya dengan derai tawa.
“ Aku milih yang terakhir.”
“ Mengapa?”
“Karena sewaktu-waktu aku dapat memutuskan bila tidak sesuai dengan keinginanku.”
=============================
Meski pembicaran kami masih bernuansa asmara, namun semuanya hanya sebagai bunga-bunga hati yang tersisa setelah semuanya telah jelas, khususnya mengenai hubunganku dengan Magda. Sikap Laura belakangan ini menumbuhkan rasa kagumku terhadap dirinya, tegas dan tegar. Hampir dalam waktu bersamaan dia mengahadapi dua situasi yang sangat sulit; menolak pinangan keluarga Gunawan, terakhir Laura terpaksa “melepaskan” impiannya untuk mendampingiku, namun dia masih mampu berdiri tegar.

Meski mempunyai hati nan lembut namun dia mempunyai sikap yang tegas. Tegas menolak pemaksaan kehendak orangtuanya; tegar menghadapi pahitnya impian yang telah dibangun sejak lima bulan lalu, mengharap, Tan Zung putra batak kelahiran Aceh itu sirna bak ditelan gulungan ombak.

Sebelum kembali ke Jakarta, Laura mengajakku, Lam Hot dan Rima jalan ke pantai. Laura datang sendirian tanpa sopir. Aku, Lam Hot dan Rima terkesima melihat Laura setelah turun dari mobil, pakaiannya sedikit seksi. Laura hanya memakai celana pendek mirip warna kulit pembungkus pahanya, sementara tangannya menenteng tas kantongan dengan merk satu toko pakaian. Kacamata rayben tergantung pada t-shirt tanpa lengan, didepan dadanya.

Rambut tergulung tanpa diikat, ujungnya tergerai menyentuh pundak. Tampak jelas keserasian bentuk dagu dengan keindahan leher yang terbungkus dengan kulit mulus. Dibahunya tergantung sebuah foto kamera berlensa panjang. Bibirnya dibiarkan tanpa lipstik. Weleh...Laura, apa pula maksudmu, kok terakhir ini semakin kamu menguji kesetiaanku terhadap Magda, kataku dalam hati.

“Aku sengaja tak bawa sopir. Pagi ini aku akan menjadi sopir, mas duduk disebelahku, jadi penumpang khusus,” ujarnya terkesan genit. “ Ini hadiah dari om Laurance waktu aku di wisuda,” ujarnya lantas menyerahkan foto kamera ke tanganku.
“ Kamera bagus dan mahal. Boleh aku pinjam sewaktu-waktu?” tanyaku.
“ Nggak usah pinjam mas. Memang aku sengaja bawa untuk mas miliki.”
Hah..!? Tidak baik menyerahkan barang kenangan pribadi kepada siapapun, apalagi aku tidak siapa-sapa.”
“ Yang pemilik kan aku ? Bilang, kalau mas menolak,” ujarnya serius. Aku diam tak menjawab, kecuali hanya menerima kamera dari tangannya. Rima dan Lam Hot menyambut Laura dengan ciuman pipi kiri dan kanan. Sebelum Laura mengajak ku masuk ke kamar, aku menegur Lam Hot berbisik: ” Hot, jangan cari kesempatan kau, pakai cium pipi segala, gayamu! Aku aja nggak,” ujarku seakan serius.

“ Manalah adalah orang kampung pakai cium pipi.... Eh..mbak abang minta....” teriak Lam Hot seraya ketawa ngenyek disambut tawa Rima.
“ Minta apa sih mas..?” tanya Laura.
“ Minta difoto,” sergahku dengan rasa malu karena ditembak langsung adikku Lam Hot. Laura menggandeng tanganku menuju kamar.

Tiba dikamar, Laura membuka tas kantongan, mengambil isinya dan menggelar diatas tempat tidur. “ Mas, aku sengaja beli untuk kita berdua. Warnanya serasi kan mas?” tanyanya dengan wajah cerah, sementara perasaanku kembali terganggu setelah penyerahan foto kamera sebelumnya. Sejak aku berpacaran dengan Magdalena dan Susan paling sebal bila memberikan sesuatu tanpa aku minta. Soal pakaian? Iya, memang aku akui paling cuek soal yang satu ini. Laura perempuan ketiga, setelah Magdalena dan Susan yang “consern” dengan pakaian seharianku. Laura mengulang pertanyaannya, apakah aku suka dengan pakaian yang dibelinya.

Merasa tak ada respon dariku, Laura terdiam dan membalikkan tubuhnya, melangkah ke kursi ditengah kamar. Mata kami beradu tatap tanpa kata terucap. Aku duduk diatas meja kecil persis berhadapan dengannya. “ Mengapa Laura diam dengan wajah murung?”

“ Kalau nggak suka ngomong dong. Masya aku dicuekin seperti itu,” keluhnya.
“ Aku suka dan senang tetapi...”
“ Tetapi kenapa mas..?” potongnya
“ Mestinya bilang-bilang kalau mau beli sesuatu untukku.”
“ Laura tahu, mas pasti nggak mau kalau dibilangin duluan,” ketusnya sambil memiringkan tubuhnya menghindari tatapanku.
“ Kapan Laura pernah menawarkan sesuatu dan aku tolak ?” tanyaku. Laura diam tak menjawab, wajahnya tetap murung. Dalam kebisuan sesaat, Laura beranjak mau ke kamar mandi. Aku menghentikan langkahnya.

“ Laura mau kemana? Marah malah mau ngumpet?“ ujarku lembut sambil memegang tangannya. Laura hanya menunduk dan menggelengkan kepala.
“ Okey Laura, aku akan mengenakan pakaian itu, tetapi jawab dulu pertanyaanku:
" Bagaimana Laura tahu, aku akan menolak jika kamu menanyakan terlebih dulu? Magdalena cerita iya.?”
Laura masih belum mau menjawab, dia terus berusaha menghindariku dan melangkah ke kamar mandi. Aku bersikeras menahannya; ” Jika Laura nggak mau jawab, aku tidak akan mau mengenakannya,” ancamku serius.
“ Ya mas, aku tahu dari mbak Magdalena.”

“ Kenapa urusan seperti inipun Laura harus dibicarakan dengan Magda?”
“ Mbak Magda aku anggap sahabat dekatku walau belum mengenal wajahnya. Sebelum membeli, aku tanyakan mbak Magda ukuran dan warna kesukaan mas.” ujarnya dengan wajah masih menunduk.
“ Kamu dibohongi. Warna kesayanganku, hitam bukan biru seperti itu.”

Tiba-tiba Laura mengangkat wajahnya, menatapku, berujar dengan suara pelan: “ Nggak mas. Mbak nggak mungkin bohong. Bilang saja mas nggak mau menerima pemberian Laura.”
Tak mampu mendengar suaranya memelas, aku mengajaknya kembali ke sisi tempat tidur memilih satu diantara dua pasang pantalon dan t-shit yang telah disiapkannya.

“ Laura benar. Memang jenis t-hirt dan warna yang aku sukai, ukurannya juga pas. Sekarang aku punya tiga pasang jenis dan warna yang sama. Ini yang terbaru,” ujarku, disambut senyuman Laura. “ Sekarang giliranku memilih pakianmu. Nih...paling cocok pakaian ke pantai,” lanjutku.
“ Memang nggak ada pilihan lain mas, pakaiannya cuma yang ini kok,” ujarnya ketawa. Atau aku pakai yang ini saja mas? tanyanya menunjukkan pakaian yang melekat pada tubuhnya. ( Bersambung)

Los Angeles, August 2009


Tan Zung
Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/

Wednesday, July 29, 2009

Telaga Senja (90)







http://www.youtube.com/watch?v=t97o2kbXVPg

All my life was a paper once plain, pure and white /Till you moved with your pen changin' moods now and then /Till the balance was right /Then you added some music, ev'ry note was in place /And anybody could see all the changes in me by the look on my face

And you decorated my life, created a world where dreams area apart /And you decorated my/life by paintin' your love all over my heart /You decorated my life

Like a rhyme with no reason in an unfinished song /There was no harmony life meant nothin' to me, until you cam along /And you brought out the colors, what a gentle surprise /Now I'm able to see all the things life can be shinin' soft in your eyes

And you decorated my life, created a world where dreams are a part 'And you decorated my life by paintin' your love all over my heart /You decorated my life

==========================
Laura hanya memandangku, tersenyum pahit, tak bergairah mendengar jawabanku yang spontan. Lagi-lagi aku menyesali jawabanku, tak menyadari telah menyinggung perasaanya. Segera aku mengusap-usap wajahnya;” maaf Lauara mulutku latah,” ujarku. ============================


Mathias manager hotel menyerahkan kunci kamar kepada Laura. Aku menahan Lauara ketika dia beranjak dari tempat duduknya dengan wajah masih murung. “ Laura, kamu terlalu sensitif, nggak bisa membedakan canda dengan serius. Pada hal sudah cukup lumayan lama kita bersahabat.”
“ Aku nggak apa-apa kok mas. Memang benar, aku belum cukup dewasa untuk memilih teman hidupku.”
“ Kenapa jadi serius seperti ini. Tadi kita sudah bicara dari hati kehati, terbuka hingga masalah pacarku.”

“ Aku kan nggak bilang apa-apa. Aku setuju, apa yang mas katakan benar.” ujarnya sambil berusaha melepaskan peganganku.
“Tunggu! Laura nggak boleh pergi sebelum wajahmu kembali cerah, tidak murung seperti itu.”
“ Cerah? Itu ekspresi dari hati mas.”
“ Jadi Laura marah?”
“ Kalau” iya” kenapa, kalau “nggak” kenapa?” tantangnya.
“ Kalau “iya” aku pulang besok dengan Lam Hot dan Rima. Kalau “nggak”, berikan aku ciuman selamat malam tiga kali, sebelum Laura meninggalkan kamar ini.”

Laura tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban atas tantangannya, pertanda hatinya mulai pulih. Hal itu terlihat dari wajahnya mulai cerah dan dia meresponi:
“ Kenapa mesti tiga kali mas?”
“ Satu ciuman atas nama Rina, kedua dari Magda dan terakhir dari Laura sendiri.”
“ Kenapa nggak berikut dari ibu Susan?” ujarnya berusaha melepaskan tanggannya sambil memutar tubuhnya.
“ Lho, kok nggak satupun...? Berarti Laura masih marah?”
“ Mas serakah !” ujarnya diiringi ketawa lantas meninggalkanku dalam posisi berdiri.

Segera aku melompat ketempat tidur dengan perasaan lega. Laura telah mengetahui jelas hubunganku dengan Magda, kini aku dan dia telah mempunyai sekat pembatas. Namun aku masih ragu Laura dapat segera menghapus benih cinta yang ditabur selama beberapa bulan terhadap diriku. Apalagi pada situasi dimana dia dihimpit persoalan rumit dengan kedua orangtuanya. Aku yakin Laura masih butuh teman pendamping, setidaknya hingga Gunawan meninggalkan tanah air. Sementara keharmonisan papi dan mami Laura pada sumbu siap bakar akibat penolakan Laura atas pinangan orangtua Gunawan.

Dalam pembaringan malam, gumpalan hitam gelap terasa menutup bola mata sementara ‘roh” telah meniggalkan tubuh, menghantarkan nyenyak dalam peraduan. Sesaat kemudian Laura berbalik menemuiku; dia telah berdiri disisi ranjang kala mata telah kompromi dengan badan melepas penat.

“ Mas, tolong antarkan aku kekamar, aku takut jalan sendiri.” ujarnya sambil menarik lenganku. Aku berusaha membuka mata yang baru saja terpejam namun terasa sangat berat. Laura menepuk wajahku : ” Kok mas tega membiarkan aku jalan sendiri, pagi begini. Ntar orang kira aku perempuan nakal. Ayo dong mas antarkan aku kekamar, tetapi nggak ada jatah-jatahan.” ujarnya geli setelah dilihatnya aku bangkit dari tempat tidur.

***
Pagi sekitar pukul enam, Laura kembali menemuiku ke kamar, sementara aku masih terlelap. Aku terjaga dari tidur ketika Lauara menghidupkan radio. Dia melemparkan senyuman kala mengusap mataku meyakinkan diri bahwa sosok perempuan yang duduk di kursi menghadapku adalah Laura. Pagi itu, pakaian yang membalut tubuhnya berbeda dengan yang dikenakan sebelum kami berpisah tidur. Laura kelihatan lebih bugar. Kali pertama aku melihat Laura mengenakan rok yang terbuat dari bahan jeans, serasi dengan warna t-shirt. Lipstik tipis menempel pada bibirnya serasi dengan warna bedak yang melekat pada wajahnya. Kelopak matanya masih menyisakan lekukan tipis karena derita yang mendera malam sebelumnya.

Duh, kamu sejak tadi malam tak hentinya mengganggu. Minta antar ke kamarlah, sekarang mau apalagi,” ucapku sambil menghampirinya.
“ Kelihatan mas tidur nyenyak.”
“ Laura puas tidur.?”
“ Nggak. Aku tidak bisa tidur. Gelisah terus. Aku ngiri melihat mas dapat tidur nyenyak.”
“ Salah sendiri. Kamu gelisah karena tidak menunuaikan kewajibanmu.”
“ Kewajiban apa?”
“ Tak menyalurkan “jatah”pengantar tidurku.
“ Oalah.., kirain mas serius.”

“ Serius! Sampai-sampai aku bawa dalam mimpi."
" Mimpi apa mas?" tanyanya geli.
" Tadi malam aku bermimpi duduk ditepian telaga kala senja. Sejumlah bidadari mengerumuni; mereka berebutan ingin menciumiku, tetapi tak satupun yang kesampaian karena nggak sabar menunggu giliran.” tuturku.
Laura tertawa lepas,” jangan-jangan bidadarinya "pemain biola"mas," ujarnya menirukan ucapanku sehari sebelumnya.

“ Pukul berapa pagi tadi Laura pulang kerumah?”
“ Mungkin sekitar pukul empat. Tadi aku datang kesini pukul setengah enam, mas masih tidur lelap. "

" Ngapain Laura datang pagi-pagi? Mau bayar utang?"
" Nggak. Aku nggap punya utang pada mas. Hari ini aku mau mengajak jalan bareng dengan adik Lam Hot, sebelum mereka kembali entar malam.”
“ Boleh aku ikut pulang dengan mereka.?”

" Lho, tadi malam mas sudah bersedia kita pulang minggu depan."
" Aku sudah puas menikmati udara sejuk dan "panas"nya Yogya."
" Ah...nggak pernah panas tuh. Selama kita disini memang cuacanya mendung tetapi sejuk kok, " balasnya polos.
" Mendung disertai hujan air mata, " ujarku. Magda baru sadar kalau bahasaku bersayap.
" Mas, nggak usah disinggung lagi, tolonglah..!"

" Okey, daripada kamu gantung diri. Berapa hari lagi kita disini.?"
" Kita pulang besok lusa , sore, kalau mas sudah bosan.!"
" Dan selama itu pula aku menjadi body guard atau kekasih bayangan.?"
" Mas pilih yang mana.?"
" Kedua-duanya. "
" Bagaimana sebagai seorang sahabat.?"
" Apa beda sahabat dengan kekasih."

" Sahabat itu teman sejati mas. Tak mengharapkan sesuatu imbalan kala mengulurkan tangan membantu seseorang dalam kesulitan. Kekasih sewaktu-waktu dapat putus, jika tidak sesuai dengan keinganannya," ujarnya dengan derai tawa.
" Aku milih yang terakhir."
" Mengapa?"
"Karena sewaktu-waktu aku dapat memutuskan bila tidak sesuai dengan keinginanku." ( Bersambung)

Los Angeles, July 2009

Tan Zung

Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/