http://www.youtube.com/watch?v=pdLklXD5YYc
(music: right click on mouse then click “open in new window”)
Shania Twain : The Woman In Me
But i can’t always be/The rock that you see/When the nights get too long/And i just can’t go on
The woman in me/Needs you to be/The man in my arms/To hold tenderly/Cause i’m a woman in love/And it’s you i run to/Yeah the woman in me/Needs the man in you
When the world wants too much/And it feels cold and out of touch/It’s a beautiful place/When you kiss my face
The woman in me/Needs you to be/The man in my arms/To hold tenderly/Cause i’m a woman in love/And it’s you i run to/Yeah the woman in me/Needs the man in you/Yeah the woman in me/Needs the man in you
I need you baby/Yeah yeah/Oh baby...
Ya Laura, akhirnya, sejak siang, sepeninggalmu aku menjadi manusia bejat.. Maaf Laura, semuanya telah terlanjur, biarkan aku mereguk kebebasan ini tanpa direcoki oleh siapapun, faham?”
=================
“ Mas, aku pergi hanya sejenak, berhening. Merawat luka dalam kesendirian, setelah mas mengenyahkanku dari rangkaian persahabatan yang kita rajut berbulan-bulan. Bahkan makanpun enggan bersamaku.!?”
“ Laura, belakangan ini kamu selalu menimpakan salah atasku. Seingatku tadi siang, aku telah mengajakmu makan siang, bukan ,?” ingatku.
“ Iya mas. Setelah lebih dahulu menolak ajakanku. “
“ Laura, kembalilah ke kamarmu, nanti aku datang menyusul bila kamu masih ingin ribut.”
“ Justru aku datang mau mengakhiri silang faham antara aku dan mas.”
“ Semuanya cukup jelas kok. Tidak ada silang faham. Kita saling memahami keberadaan kita. Aku, iya aku, kamu, iya kamu, titik," tegasku. Namun, Laura seakan tak peduli dia terus membujukku kekamarnya.
“ Untuk yang terakhir mas. Kita bicara baik-baik . Aku janji tidak akan mencampuri urusan pribadi mas.”
“ Besok pagi saja. Aku mau pergi dengan Tia.”
“ Mau pergi kemana lagi sih!?” rengeknya.
“ Lho, katamu, nggak mau mencampuri urusanku. Kok malah tanya aku mau pergi kemana. Perlu apa kamu tahu jika aku mau pergi kemana !?” ujarku, lantas meninggalkan dia. Buru-buru Laura menarik lenganku, kuat.
“ Tidak mas, sekarang saja,” paksanya, bibirnya gemetar diikuti kelopak mata hampir mengucurkan air mata.
“ Baiklah Laura. Tetapi aku tak bisa lama-lama. Aku telah ada janji dengan Tia.” ujarku sambil mengikuti ke kamarnya. Tiba di kamar, Laura menghempasakan tubuhnya keatas tempat tidur diikuti jeritan tangis. Meski dia menutupi wajahnya dengan bantal, jeritan tangis dan suara lirih kudengar. Sayang, hatiku sudah keburu” bebal” seakan tak punya telinga hati yang mendengar seperti sediakala.
“ Laura, tadi kamu mengajakku mau bicara baik-baik, tidak untuk mendengar tangisanmu. Menurutmu, cukupkah tangisan menyelesaikan masalahmu,?” tanyaku kesal.
“ Ya. Aku akui itu. Tetapi kamu terlalu banyak maunya. Aku tak sanggup melayanimu Laura. Aku lelah. ...”
“ Lelah? tetapi mas masih mau pergi dengan perempuan lain!?”
“ Aku katakan, lelah menghadapi tingkahmu. Bukan dengan perempuan lain, tahu!?”
“ Mas, kejam...!” teriaknya seraya melangkah kearah pintu kamar.
“ Iya..kejam dan bejat..dan apalagi yang mau kamu sebut..hah....!?” balasku teriak sambil berbalik meninggalkan kamar, tetapi Laura menghalangiku ketika mau keluar .
“ Tidak mas! Mas nggak boleh pergi,” cegahnya dengan rintihan. Walau hati kesal, hatiku mulai luluh medengar rintihan dan melihat liris-liris yang terukir diatas dahinya serta wajahnya mengharap bujuk. Bujuk mendulang bujuk. Dengan nada suara pelan aku memohon:” Untuk kali ini Laura, ijinkan aku pergi. Aku sudah terlanjut buat janji dengan Tia. “
“ Mas, mau pergi kemana,?”
“ Mau pergi hanya sebentar. Nanti aku segera balik, kesini. Laura mau ditemani tidur,?” tanyaku serius.
“ Nggak mas. Aku hanya butuh bicara,” jawabnya, seraya menggelengkan kepalanya.
“ Katakanlah sekarang juga. Kenapa harus menunggu nanti.!?”
“ Ayo kita duduk mas!” ajaknya, lantas menarik tanganku kearah kursi.
“ Laura, maaf, aku tak bisa. Malam ini aku harus pergi dengan Tia,” tolakku kemudian meninggalkannya. Laura mengikutiku hingga ke pintu kamarku.
“ Teman dari Jakarta,” jawabku ketika Tia menanyakan siapa perempuan itu. Selanjutnya aku tak tahu Laura pergi entah kemana.
“ Bukannya kemarin calon isterinya datang dari Jakarta.?”
“ Baru saja kami “cerai” ujarku disambut tawa Tia. ( Bersambung)
Tan Zung
Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/
