An empty street,/An empty house,/A hole inside my heart,/I’m all alone, the rooms are getting smaller/ I wonder how,/I wonder why,/I wonder where they are,/The days we had,/The songs we sang together(oh yeah)./ And ohhh.. my love,/I’m holding on forever,/Reaching for a love that seems so far, Chorus: So I say a little prayer,/and hope my dreams will take me there,/where the skies are blue to see you once again,/My love,over seas from coast to coast,/to find the place I love the most,/where the fields are green to see you once again, my love.
I try to read,/i go to work,/i’m laughing with my friends,/but i can’t stop to keep myself from thinking(oh no)
I wonder how/I wonder why/I wonder where they are/the days we had, the songs we sang together(oh yeah) / And ohhh.. my love/I’m holding on forever, reaching for a love that seems so far Chorus To hold you in my arms,/To promise you my love,/To tell you from a far/You’re all I’m thinking of/ Reaching for the love that seems so far
==================== Di akhir percakapan Magda mengingatkanku, agar tidak teler, jangan main judi dan main perempuan lagi. " Nggak lagi, aku janji. Kecuali kepepet," godaku. " Banggggg!!!!!" teriaknya diujung telephon.
====================
SEMINGGU setelah Rina kerumah, adik Lamhot menemuiku. Dengan wajah kusam. Aku mengira dia mau curhat kepadaku karena dia ada masalah dengan pacarnya Rima atau di kantornya.
" Bang, boleh kita bicara diluar. Ada yang sangat penting," ajaknya. " Kamu punya masalah dikantor atau dengan pacarmu?"
" Bukan.! Masalah dengan abang."
" Aku bermasalah? Masalah apa?. Aku baik-baik saja. Kenapa harus bicara diluar? Kita bicara di kamarku saja. Ah kamu bikin aku sesak nafas. Dengan siapa aku bermasalah, ?" cecarku.
" Bang, Rina menghilang. Dia pergi dari rumah sejak kemarin malam."
" Ada apa dengan dia? Kenapa Rina menghilang? Bagaimana kalian tahu Rina menghilang. Boleh jadi dia menginap dirumah temannya."
Rima menemukan surat diatas meja kamarnya. Rina berpesan:
" Papi, mami dan Rima, tolonglah Rina tidak dicerca lagi. Aku mengaku salah karena menorehkan aib ditengah keluarga kita. Papi, Rina bukan perempuan jalang. Biarkan aku sendiri menentukan jalan hidupku. Hidup akan kugapai dengan jalanku sendiri. Maafkan Rina, anak durhaka.!"
" Rina ribut dengan papi-maminya? Sebabnya apa? Kalian sudah mencarinya,?" tanyaku gusar.
" Sudah bang.! Sejak tadi pagi kami sudah cari kerumah teman-temanya, tetapi mereka tidak tahu keberadaannya."
" Rina menghilang, kenapa kamu bilang itu masalahku.?"
" Memang abang nggak tahu dimana Rina.?"
" Nggak! Aku terakhir ketemu dia minggu lalu di rumah ini, ketika kalian menghantarkan surat Magdalena."
“ Rina hamil bang! Kedua orangtuanya sangat marah, karena dianggap menaruh aib ditengah keluarga,” ujar adikku.
" Hah...! Rina hamil!?" “ Abang memang nggak tahu.?” “ Bagaimana aku tahu. Aku juga tahu dia menghilang dari kamu."
" Aku nggak mengerti arah pernyataanmu. Jadi kamu pikir aku menghamilinya,!?” “ Soalnya, sebelum abang pindah selalu berdua dirumah. Juga sering pulang larut malam. Abang serius nggak tahu dimana Rina.?”
“ Sekali lagi kau ulang pertanyaanmu, akan kukuncir bibirmu,” teriakku marah. “ Lho, kenapa abang marah,?” “ Lam Hot, aku tak sepicik itu. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab." “ Benar! Bang, penjara tak muat, kalau semua penjahat mau mengaku jujur.” “ Jadi, kau dan keluarganya menuduhku.?”
“ Bang, Rima adiknya menemukan catatan harian Rina. Aku telah membacanya, juga kedua orangtuanya.” “ Apa hubungannya catatan hariannya denganku?” “ Dari semua lembaran buku hariannya, hanya nama abang yang paling sering disebut, “ujar adikku seraya menyerahkan buku harian Rina.
" Isinya apa dik.?"
"Abang baca sendiri."
***
Sabtu, 14 Februari: Hari yang tak dapat aku lupakan, aku dan mas Tan Zung menikmati indahnya malam sepulang nonton. Aku tak menyangka kalau dia lelaki berhati lembut. Dia seorang pria jantan yang belum pernah aku temukan diantara teman priaku termasuk Paian.
Minggu 15 February: Aku dan mas Tan Zung duduk di rerumputan taman Ancol dibawah sinar rembulan hingga menjelang tengah malam.
Senin, 16 Februari: Tan Zung membantuku mempersiapkan makan siang. Dia sering mencuri pandang kearahku. Ah...aku salut dengannya; Dia berdoa sebelum mencicipi makanan. Hal seperti belum pernah aku lihat adiknya Lam Hot.
Sabtu, 21 Februari: Aku marah karena Tan Zung terlalu banyak minum ketika kami ke bar. Tetapi, mas Tan Zung pintar meluluhkan hatiku. Rasa dongkol berubah sejuk, aku terlena dengan kalimat puitisnya. Lengan tangannya yang kokoh menggapit lenganku, menunutunku keluar dari bar menuju tepi pantai dibelakang bar itu.
Gema suaranya bagai genta menghentak heningnya malam; Gejolak sukma bagai gemuruh ombak mengubur masa laluku ketika aku dan dia duduk dibebatuan pinggar pantai. Malam itu dia berucap, “ Rina, tengok nelayan itu bungkuk menaruh jala kecilnya kedasar laut. Tangannya mengapit lentera kecil seakan mengejek cahaya rembulan. Tetapi aku tak mengerti makna ucapan mas Tan Zung.
Semeilir angin malam menghantarkanku terlena diatas kedua pahanya. Dia membiarkan rambutku , menutupi wajahnya yang tergerai oleh hembusan angin dari samudera luas. Kami terbangun ketika nelayan itu mengingatkan: sebentar lagi laut akan pasang.
Aku bangun, tersipu malu ketika ibu nelayan menatap wajahku, teduh. Pasangan nelayan itu terus menatapku senyum dalam pangkuan Tan Zung hingga dibalik batang pohon rindang. Tan Zung tak membiarkan diriku menapak diatas pasir putih; dia memopongku hingga kemobil. Malam indah mengukir sejuta kenangan. Ah..belum...belum seorangpun sahabat lelaki memperlakukanku semesra itu.
***
“ Bang, nanti baca lanjutannya. Mereka menunggumu dirumah. Abang harus kesatria, jangan pengecut.” “ Iyalah. Aku tetap bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan. Aku akan mencari Rina hingga keujung langit sekalipun,” janjiku untuk menenangkan hatinya. “ Seorang berpakaian militer mengetuk pintu rumah. Segera adikku menemuinya ke luar. Aku melihat mereka berbicara serius, agaknya dia sudah mulai bosan menunggu pembicaraanku dengan Lam Hot. Oknum militer mendengar dengan seksama uraian adikku, dia mengangguk-angkuk kepalanya. “ Mas, aku tunggu dirumah !” suaranya menggelegar dengan tatapan tajam ke arahku.
***
Aku melanjutkan membaca seluruh buku hariannya, sekaligus ingin mencari beberapa informasi yang dapat membantu menemukan Rina. Aku melihat nama Rihat lengkap dengan alamat dan nomor telephon pekerjaannya. Nama ini masih melekat dalam ingatanku, ketika Rina menceritakan kedekatannya dengan Paian. Segera aku menghubunginya lewat telephon, dia mau membantu tetapi menolak bertemu denganku.
Sejak pagi, Rima, adikku Lamhot dan aku bersama-sama mencari Rina kerumah sahabat-sahabatnya, tetapi tak ketemu. Kedua orangtuanya menyesali diri sendiri karena mengusir Rina dari rumah. Mereka takut Rina akan bunuh diri. Setelah menunggu selama dua hari Rina tak kunjung pulang, atas inisiatipku, Rima dan Lam Hot melaporkan ke polisi, Rina hilang, dengan menyebutkan ciri-ciri serta pakaian yang dikenakannya.
Esok harinya, pukul 05:00 dini hari, dering telefon mengagetkan aku dan orangtua Rina ketika polisi meminta kami datang ke rumah sakit. Aku terhuyung dikamar adikku, hatiku hancur membayangkan penderitaannya dan nasib janin dalam kandungannya. (Bersambung) Los Angeles. April 2009
Tan Zung Magdalena & Dosenku “Pacarku “: http://tanzung.blogspot.com/
SURAT berisi kenangan masa lalu kubaca berulang, isinya menukil kenangan manis. Aku ingin segera menelephon dia, namun hati mendua mengingat pertengakaran kami terakhir ketika aku habis main judi dan mabuk berat. Tubuh terbaring lesu diatas tempat tidur, tercenung, sukar memutuskan apakah aku menghubunginya sesuai permintaan diakhir tulisannya.
Ibu kost memanggilku dari balik pintu kamar.” Zung kamu ketiduran? Ibu dari tadi mengetuk kamarmu tidak ada jawaban. Kenapa wajahmu kusut. Ribut dengan pacar,?” tanyanya, ketika aku membuka pintu kamarku, lantas memberitahu kalau Rina baru saja menelefonku. Ditengah galaunya hati, aku menghubungi Rina ingin tahu untuk apalagi dia menelefonku.
“ Hot, tadi Rina telephon aku, tolong panggilkan dia,” pintaku kepadanya ketika dia mengangkat gagang telefon. “ Kebetulan bang. Cuma mengingatkan: Kalau ngomong jangan ketus-ketus seperti tadi sore apalagi kepada perempuan." " Rina marah?" " Nggak, cuma sedkit kesal. Tetapi Rina sudah maklum kok gaya abang bicara. Sebentar bang, aku panggilkan kak Rina.”
“ Heh..mas masih mau telefon aku iya!?” “ Rina, jangan panggil heh...Bagi orang Sumatera, itu tak sopan.” “ Duh...mas kok jadi sensitif setelah baca surat isteri..eh..pacar. ?” “ Tadi Rina menelefonku? Ada yang perlu?” “ Ya. Aku minta maaf kejadian tadi sore. Nanti jadi kan kita makan malam bareng.?” “ Nggak. Kepalaku pusing, nggak punya selera makan.” “ Lho, tadi mas janji mau makan malam dengan aku dan adik Lam Hot?” “Rina! Janji nikah pun dapat batal, apalagi hanya janji makan ,” ujarku ketawa. “Mas, nggak lucu,” balasnya. Rina meletakkan gagang telefon mengakiri pembicaraan kami.
***
Aku minta tolong kepada ibu kost untuk menghubungi Magdalena. Ibu kos heran: “ Mau bicara dengan pacar harus pakai orang ketiga.?” “ Bu, tolong bilangin aku sedang sakit." “ Nggak ah, ibu nggak mau bohong,” tolaknya. “ Benar ibu, aku lagi sakit. Kepalaku pusing.” Ibu kos mengalah, dia memutar nomor telefon yang ku berikan. “ Magdalena? Iya ini ibu tempat tingganya nak Tan Zung; Dia mau bicara. Dia sedang sakit.”
“ Zung, benar sakit? Sakit apa? Tadi malam mabuk lagi.?” tanyanya diujung telefon. “ Nggak! Magdalena, aku minta maaf kejadian beberapa minggu lalu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat itu. Magdalena sehat? Suratmu baru aku terima siang ini. Surat itu terlambat aku terima karena di alamat tidak tercantum RT/RW. Aku menelephon karena diakhir surat, Magda minta aku segera menghubungi setelah membacanya.”
“Mengapa ibu itu yang duluan menenlephon aku, kenapa bukan abang langsung.?” “ Aku masih trauma kejadian lalu ketika Magda marah dan menutup telefon setiap mendengar suaraku.” “ Makanya abang jangan keras kepala.” “ Ya, nggak lagi. itu makanya aku telephon kamu malam ini. Magda aku rindu.” “ Abang telefon aku, karena rindu atau karena sakit?” “ Kedua-duanya. Magda masih marah?” “ Masih! Abang nggak pernah mau dengar omonganku.”
“ Aku selalu dengar, cuma sering lupa.” “ Bang, lagi minum iya.?” “ Nggak. Aku hanya bercanda. Magda jangan marah-marah terus.!” “ Aku marah karena aku kasihan pada abang.” “ Karena kasihan atau karena kasih.” “ Terserah yang mana. Abang jugul!”
***
“ Magda, aku sudah pindah dari tempat adikku setelah bekerja. Kemarin aku gajian tetapi semua gajiku raib, aku kecopetan. Itu sebabnya kepalaku pusing.” “ Abang sudah kerja? Kok nggak beri tahu aku.?” “Dua minggu lalu aku menelefonmu. Tetapi ketika mendengar suaraku, langsung kamu tutup.” “ Aku kesal, abang tak mau berubah, padahal dulu sudah janji nggak mau mabu-mabukan lagi. Main sama perempuan lagi, huh...” “ Dia bukan perempuan nakal. Untung ada dia menuntunku masuk ke kamar.” “ Apakah abang masih dapat dipercaya.?” “ Aku masih seperti yang Magda kenal, jujur dan setia.” “ Jujur ? Setia kepada siapa?. Belum lama di Jakarta sudah jalang dengan perempuan lain.”
“ Itu hanya kebetulan, dia perempuan baik. Buktinya malam itu dia mau bantuin aku telefon kamu.” “ Halah..abang selalu punya alasan. Abang masih punya uang? Berapa aku mau kirim?” tanyanya prihatin. “ Nggak usah. Aku masih ada uang sisa dari Medan.” “ Abang selalu menolak, kalau aku mau memberi sesuatu.” “ Magda, nantilah aku terima kalau kamu sudah kerja.” “ Aku sudah bekerja sejak dua minggu lalu bang. ” “ Tetapi kamu belum gajian. "
“ Zung, aku masih punya tabungan. Berapa aku kirim untuk bayar kosmu,? desaknya. Abang nggak pernah mau terima pemberianku, tetapi pemberian Susan abang terima.” “ Ya... iya, kirimkanlah,” jawabku setelah dia menyebut nama Susan-- mengingatkanku isi suratnya-- lantas aku menyebutkan jumlah pembayaran kosku. Di akhir percakapan Magda mengingatkanku, agar tidak teler, jangan main judi dan main perempuan lagi. " Nggak lagi, aku janji. Kecuali kepepet," godaku.
" Banggggg!!!!!" teriaknya diujung telefhon. (Bersambung) Los Angeles. April 2009
Anak manusia yang terdampar jauh dari tempat kelahirannya dari salah satu kabupaten Aceh. Pada usia 15 thn merantau ke kota Medan,menamatkan sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi, kemudian thn 1978 ke Jakarta hingga thn 1990 sebelum hengkang ke California, USA, January 1991.
"Magdalena"; Dosenku "Pacarku ": & "Telaga Senja"
http://tanzung.blogspot.com/
; http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/